Selasa, 01 Maret 2016

Kain Tradisional Daerah

1. Batik



Kain tradisional Indonesia yang satu ini sudah berkali-kali hampir di-klaim oleh negara tetangga kita. Padahal, jika kita telusuri, jelas-jelas akar kata batik adalah dari bahasa Jawa. Batik berasal dari kata “amba” yang dalam bahasa jawa artinya menulis dan “titik” yang artinya titik. Pada awalnya batik dibuat di atas kain mori lalu digambar dengan menggunakan lilin dengan canting. Motif atau corak batik bukan hanya sekedar indah, namun juga mengandung berbagai lambang dan makna masing-masing. Beberapa motif batik batik bahkan hanya digunakan oleh keluarga keraton. Batik tak melulu hanya batik jogja. Ada juga batik solo, batik pekalongan, batik cirebon, batik banyumas, batik bali, dan lainnya.

2. Ulos


Ulos adalah kain tradisional Indonesia yang dikembangkan oleh masyarakat batak. Ulos dibuat dengan cara ditenun. Dalam tradisi masyarakat batak, ulos ada dalam berbagai peristiwa penting, mulai dari pernikahan, kelahiran, dan dukacita. Ulos juga kadang diberikan kepada ibu yang sedang mengandung untuk melindungi sang ibu dari segala marabahaya dan mempermudah lahirnya sang bayi. Nenek moyang orang batak percaya bahwa salah satu hal yang member kehidupan bagi tubuh manusia adalah kehangatan. Memakai ulos dapat memberikan kehangatan itu. Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Sangat disayangkan bahwa ada beberapa jenis ulos yang sudah punah, seperti Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput dan Ulos Sibolang.

3. Tenun Ikat


Tenun Ikat merupakan kain tradisional Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke zat pewarna alami. Sebelum ditenun, helai-helai benang diikat dengan plastik atau tali sesuai dengan corak yang akan dibuat sehingga pada saat dicelup bagian benang yang dikat plastik atau tali tidak akan terwarnai. Alat tenun yang digunakan adalah alat tenun tanpa mesin. Beberapa daerah di Indonesia yang terkenal dengan kain tenun ikatnya adalah Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor.

4. Kain Gringsing


Kain gringsing adalah satu-satunya kain tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat. Keseluruhan prosesnya dikerjakan dengan tangan. Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar 2-5 tahun. Kain Gringsing berasal dari Tenganan, Bali. Gringsing berasal dari kata “gring” yang artinya “sakit” dan “sing” yang artinya “tidak”. Maknanya adalah seperti penolak bala dan untuk menyembuhkan penyakit. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, adanya kain gringsing ini berawal dari Dewa Indra yang kagum akan keindahan langit di malam hari. Dewa Indra lalu mengajarkan para wanita Tenganan untuk menguasai teknik menenun kain gringsing yang melukiskan dan mengabadikan keindahan bintang, bulan, matahari, dan hamparan langit lainnya.

5. Songket


Songket adalah kain tradisional khas Melayu dan Minangkabau yang tergolong keluarga tenunan brokat. Songket ditenun menggunakan tangan dengan benang emas dan perak. Kata “songket” sendiri berasal dari istilah “sungkit” dalam bahasa melayu yang artinya “mengait”. Hal ini sesuai dengan metode pembuatannya, yaitu dengan mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas. Songket memiliki berbagai motif tradisional yang merupakan ciri khas budaya setempat. Beberapa motif songket antara lain Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah. Masih banyak motif songket yang belum dipatenkan.

6. Sasirangan


Sasirangan merupakan kain tradisional suku Banjar, Kalimantan Selatan. Kata “sasirangan” berasal dari kata “sirang” yang artinya diikat atau atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya (dijelujur). Kain mori atau katun digambari motif khas lalu dijelujur/disirang berdasarkan motif yang sudah dibuat. Ciri khas kain sasirangan terletak pada coraknya yang sangat menunjukkan corak khas Kalimantan. Saat ini, ada sekitar 30 motif sasirangan, antara lain: bayam raja, naga balimbur, kulat ka rikit, daun taruju. Sentra pembuatan kain sasirangan ada di Kampung Sasirangan, Kecamatan Banjarmasin Tengah.

7. Tapis


Kain Tapis adalah salah satu kerajinan tradisional masyarakat Lampung sebagai usaha mereka untuk menyelaraskan kehidupan dengan alam semesta dan juga Sang Pencipta. Kain tapis disulam dengan menggunakan peralatan tradisional . Pada jaman dulu, kain tapis disulam oleh gadis-gadis Lampung di rumah mereka. Pengerjaannya bisa memakan waktu berbulan-bulan dan hasilnya menjadi cerminan kepribadian mereka. Kain berwarna gelap dari hasil pewarna alami disulam dengan benang emas. Umumnya, kain tapis memiliki motif zigzag, piramida, flora, dan fauna.

8. Kain Besurek


Kain besurek merupakan kain tradisional Indonesia yang berasal dari Bengkulu. Besurek artinya “bersurat” atau “bertuliskan”. Penamaan ini dikarenakan motif batik besurek yang sangat khas berupa motif huruf arab gundul (kaligrafi) yang dikaligrafikan. Motif ini terpengaruh unsur kebudayaan islam. Hal inilah yang membedakan besurek dengan batik jawa. Walaupun demikian, proses pembuatan kain besurek tidak berbeda dengan pembuatan batik jawa. Untuk pewarnaan, kain besurek pun memiliki warna yang lebih cerah dan beragam.


9. Tenun Dayak



Di masa lalu, selesai berladang, para wanita Dayak akan mengisi waktu luangnya dengan menenun. Tenun Dayak dibuat dengan menggunakan alat yang disebut gedok. Proses pengerjaannya pun cukup lama, bisa memakan waktu hingga bulanan. Pewarnaannya pun menggunakan bahan pewarna alami. Kain tenun dayak memiliki motif flora dan fauna dari alam sekitar mereka. Motifnya sangat khas Kalimantan. Beberapa tenun dayak antara lain: Kebat yang memiliki motif asimetris atau motif alam, sidan yang memiliki warna terang dan cerah, sungket yang memiliki motif garis besar dan tegas. Kain kebat, sidan, dan sungket ini biasa dipakai oleh suku Dayak Iban di Kalimantan Barat. Kain tenun dayak sangat digemari oleh wisatawan mancanegara.

10. Sutra Bugis


Kain Sutra Bugis ditenun dari benang yang dihasilkan dari ulat sutra atau kokon sebagaimana masyarakat setempat menyebutnya. Sarung sutra bugis pada awalnya hanya digunakan sebagai padanan baju bodo (pakaian tradisional Sulawesi Selatan). JIka kita perhatikan, sarung sutra bugis memiliki motif kotak-kotak yang berbeda-beda. Beda ukuran kotak mengandung arti yang berbeda. Dahulu, motif kotak-kotak ini menjadi petunjuk apakah seorang bugis sudah menikah atau belum. Kotak berukuran kecil dengan warna cerah dinamakan motif Ballo Renni. Motif ini dipakai oleh wanita yang belum menikah. Sedangkan kotak berukuran lebih besar dengan warna merah terang atau merah keeemasan dinamakan motif Balo Lobang. Motif ini digunakan pria bugis yang belum menikah. Selain dua motif tersebut, ada juga beberapa motif sarung sutra bugis lainnya.
Kain tradisional Indonesia tidak semata 10 kain yang saya sebutkan di atas, lho! Masih banyak kain tradisional Indonesia lainnya yang tak kalah cantiknya. Kain tradisional Indonesia, selain dapat dijadikan koleksi yang berharga, juga sangat keren untuk digunakan ke acara-acara penting. Mari kita lebih mencintai harta kekayaan Indonesia!

Selasa, 23 Februari 2016

Batik Madura

Batik Madura adalah salah satu bentuk seni budaya, batik tulis Madura banyak diminati dan populer dengan konsumen lokal dan internasional. Dengan bentuk khas dan motif batik tulis Madura memiliki keunikan sendiri untuk konsumen. Gaya dan berbagai unik dan bebas, sifat pribadi produksinya dilakukan di unit, mereka masih mempertahankan produksi tradisional, yang ditulis dan diolah dengan cara tradisional.
Kebanyakan orang mengenal batik tulis Madura dengan karakter yang kuat, yang dicirikan oleh bebas, dengan warna yang berani (merah, kuning, hijau muda). Tapi jarang yang mengetahui bahwa batik Madura mungkin telah lebih dari seribu motif dan paling terkemuka di pasar batik di indonesia maupun mancanegara. Sejarah mencatat produsen batik Madura yang cukup terkenal. Apa yang membuatnya menjadi seperti itu, mungkin karena kedua komoditas tersebut merupakan bagian integral dari tradisi masyarakat mereka sendiri.
Pada dasaranya, Batik dengan berbagai bentuk dan pola, apakah itu batik Madura, batik pekalongan, batik Jawa, batik jogja, solo batik dan batik-batik daerah lain budaya tinggi adalah karya seni yang perlu dipertahankan, dilestarikan, dikembangkan sehingga menjadi aset berharga bangsa ini di mata internasional.
Di Pulau Madura sendiri sudah sejak lama dikenal sejumlah sentra kerajinan batik. Misalnya di Kabupaten Pamekasan, sejak zaman dulu banyak perajin dan pengusaha batik bermukin dan mengembangkan usaha batiknya di wilayah tersebut. Sampai saat ini Kabupaten Pamekasan dikenal sebagai salah satu sentra industri kerajinan Batik di Pulau Madura. Karena, dibandingkan dengan kabupaten-kabupten lain di Pulau Madura, Kabupaten Pamekasan inilah yang paling banyak dihuni para perajin dan pengusaha batik.
Tradisi mengenai kain batik yang tertanam cukup kuat di kalangan masyarakat Madura telah membuat budaya membatik dan memakai kain batik terpelihara dengan baik di kalangan mereka. Bahkan ketika kain batik belum sepopuler seperti dewasa ini, masyarakat Madura tetap memproduksi dan mengenakan pakaian batik, karena batik merupakan bagian dari adat dan budaya mereka sehari-hari. Kini ketika kain batik sudah begitu populer dan memasyarakat, para perajin dan pengusaha batik di Pulau Madura semakin bergairah dalam memprodusi kain batik.

Batik Solo


Solo dan batik merupakan dua kata yang sering dikaitkan, Solo sebagai salah satu kota batik di nusantara dan batik yang merupakan kerajinan khas Solo. Batik Solo juga menjadi kerajinan kain khas Indonesia, bahkan telah diakui oleh UNESCO sebagai Budaya Tak-Benda Warisan Manusia atau Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity sejak tahun 2009.
Tidak diketahui secara pasti kapan tradisi batik ini dimulai. Semua diturunkan dari generasi ke generasi dan setiap generasi memiliki kekayaan ragam corak dan warna tersendiri. Batik ditengarai dari kata “ngembat” dan “titik” yang berarti membuat titik. Teknologi batik tidak hanya terdapat di Jawa saja. Jauh sebelum itu, sekitar 1500 tahun lalu di Mesir dan daerah Timur Tengah, teknologi ini sudah digunakan. Bukti lain juga ditemukan di Turki, India, Cina, Jepan jga Afrika Barat. Namun tidak ada yang mengembangkan teknologi batik sedemikian kompleks dan kaya seperti batik Indonesia, khususnya batik Jawa.
Perkembangan batik di Indonesia juga tidak lepas dari pengaruh pendatang, terutama pendatang yang berkunjung dan menetap ke nusantara. Mereka memberikan pengaruh dari negara asal mereka ke dalam ragam corak batik nusantara. Pada dasarnya corak batik Jawa dibagi ke dalam dua ragam corak utama, yaitu corak pedalaman dan corak pesisiran. Dua corak itu sama-sama memiliki keindahan dan filosofi yang tinggi dalam setiap corak kain.
Batik pedalaman merupakan batik yang berkembang di sekitar Surakarta atau Sala, dan Yogyakarta. Corak batik pedalaman didominasi oleh warna, coklat, putih, hitam dan biru tua (warna indigo). Pola yang digunakan juga cenderung berulang atau geometris. Pola batik pedalaman memiliki filosofi yang tinggi untuk setiap coraknya. Juga untuk penggunaan dalam upacara tradisi, setiap motif batik mempunyai kegunaan tersendiri. Motif batik pedalaman atau lebih dikenal dengan batik solo atau batik yogya, memiliki kesan elegan dan klasik.
Berbeda dengan batik pedalaman, batik pesisir memiliki pola corak dan warna yang lebih kaya. Hal ini banyak dipengaruhi oleh pendatang yang datang ke pesisir utara Jawa. Pesisir utara Jawa pada jamannya merupakan pelabuhan penting dalam sejarah perdagangan di Nusantara. Budaya India, Oriental, Timur Tengah bahkan Eropa berperan dalam kekayaan ragam batik pesisir. Hal ini semakin memperkaya tradisi batik Nusantara.
Batik Solo kini tidak hanya berupa kain panjang untuk pakaian adat saja. Namun juga bertransformasi menjadi ragam busana yang bisa digunakan siapa saja, mulai dari orang tua hingga anak-anak. Batik Solo juga menjadi daftar utama oleh-oleh atau buah tangan saat berkunjung ke Solo. Pusat Grosir Solo atau PGS, pusat kain Beteng dan juga Pasar Klewer menjadi tujuan utama wisatawan yang ingin membeli kain batik.